Minggu, 16 Februari 2014

time healing

untuk yang kesekian kalinya, saya mengulang membaca pesan terakhir yang saya kirimkan untukmu. saya menanyakan kabarmu, kamu pun sebaliknya. saya menggunakan panggilan yang biasa saya gunakan, tapi kamu sudah tidak menggunakan panggilan itu pada saya. rasanya tidak karuan. "tidak dianggap ada" adalah perasaan yang saya rasa paling buruk dari semua rasa yang pernah saya rasakan. why do i choose person who treated like i was nothing? dalam sekejap, rasa yang sudah dipupuk bertahun-tahun seperti dijatuhi bom nuklir. menjadikan yang ada menjadi bukan apa-apa.

saya seperti seorang pesakitan yang terobsesi pada seseorang yang saya cinta dan harus saya miliki. dalam setiap jam, bahkan kurang, saya selalu mengecek apakah status chat messengermu berubah, apakah foto profilemu berubah, kapankah aplikasi ini terakhir kali kamu buka. dan mirisnya saya kadang merasa senang jika dibawah namamu tertulis kata "online". saya merasa kita sedang terhubung secara 2 arah. tapi sayangnya saya melaju ke arahmu dengan cepat namun kamu melaju lebih cepat ke arah yang lain.

hidup ini seperti cuaca. hari ini bisa hujan, besok bisa cerah. mungkin untuk sekarang musim hujan sedang menhgampiri dunia saya. tapi saya tetap ingat, hujan ini tidak akan selamanya turun, masih ada cerah menanti. maka saya nikmati saja musim hujan ini sambil mengumpulkan cadangan air, biar dunia saya seimbang, tidak kekeringan saat musim cerah nanti.
hari ini saya membaca tulisan tere liye dalam novel berjudul Eliana yang isinya :
"hakikat cinta adalah melepaskan. semakin sejati ia, semakin tulus kau melepaskannya. percayalah, jika memang itu cinta sejati kau, tidak peduli aral melintang, ia akan kembali sendiri padamu. banyak sekali pecinta di dunia ini yang melupakan kebijaksanaan sesederhana itu. malah sebaliknya, berbual bilang cinta, namun dia menggenggamnya erat-erat"
tulisan yang inspiratif dari bang darwis...

tidak ada yang perlu saya sesali. menanggalkan ego sudah saya lakukan, berusaha semampu saya untuk mempertahankanmu sudah saya saya lakukan. dan meminta kesempatan untuk memperbaiki diri pun sudah saya lakukan. bila kesempatan itu tidak kamu berikan, maka saya harus bisa menerima dan menghargai keputusanmu. selanjutnya, saya harus belajar menerima kenyataan. saya harus belajar mulai melepaskan. saya harus menetralkan perasaan saya sendiri. saya harus memaafkan diri sendiri. dan merengkuh rasa damai dalam hati saya sendiri.

suatu hari saya akan bangun dan tidak akan merasakan kesedihan-kesedihan ini lagi. semua beban ini akan hilang dan saya akan lebih ikhlas menjalani semuanya...