Minggu, 13 September 2015

[Review] Negeri Para Bedebah : Tere Liye

Buku ini menceritakan pelarian Thomas, pewaris dari kerajaan Bank Semesta beserta carut marutnya. Pewaris? Tunggu! Pewaris tidak tertulis, tepatnya. Thomas membenci Om Liem, pemilik Bank Semesta sekaligus adik dari Edward-ayah Thomas yang Thomas anggap sebagai penyebab meninggal orang tuanya 20 tahun silam karena keserakahan dalam bisnis.

Walaupun Thomas membenci Om Liem, Thomas-yang juga diceritakan sebagai ahli keuangan peofesional, bersedia memutar otak, mengorbankan waktu dan tenaga untuk menyelamatkan Bank Semesta milik Om Liem ini. Proses penyelamatan Bank Semesta terjadi selama 3 hari saja. Selama kurang lebih 72 jam tersebut, Thomas memainkan bidak-bidak caturnya. Dimulai dari memanipulasi media, dengan dalih efek sistemis ekonomi bila sebuah bank ditutup. Berlanjut ke upaya pengelabuan nilai kerugian Bank Semesta hingga layak diselamatkan oleh bank sentral. Kemudian menghasut secara halus menteri perekonomian kala itu. Terakhir, merayu putra mahkota dari sebuah partai yang sangat menentukan pemerintahan.

Di hari terakhir, semua bidak catur Thomas memainkan peran sesuai keinginan Thomas. Bank Semesta tidak jadi dinyatakan bail out, dan mendapatkan bantuan dari bank sentral. Tentu saja, tidak lepas pula dari bantuan sahabat-sahabat Thomas dari klub petarung rahasianya. Juga dibumbui pengkhianatan dan balas dendam dari sosok masa lalu yang sampai saat kejadian ini terjadi, masih saja dibutakan oleh harta.

Membaca fiksi Tere Liye ini mengingatkan Saya akan kejadian di kehidupan nyata akan bangkrutnya sebuah bank yang melibatkan banyak pihak di jajaran pemerintah. Apa memang benar seperti itu kah dunia politik di negeri ini? Lalu bagaimana akhir penyelesaiannya? Sampai beritanya tidak terdengar lagi, Saya belum mendapatkan jawabannya.

Fiksi Negeri Para Bedebah dengan latar waktu yang hanya 3 hari ini cukup menegangkan. Banyak cerita kejar-kejaran yang selalu mendapatkan bantuan di saat-saat terakhir dari orang-orang tidak terduga, membuat Saya yang membaca merasakan ketegangan yang sama. hahaaha. Berlebihan! Tapi, memang begitu lah kenyataannnya.

Alur yang disampaikan maju dan mundur. Disela-sela pelarian Thomas, diselingi kisah-kisah dari masa lalu Thomas yang di dominasi oleh cerita Opa Thomas tentang perjalanannya dulu melewati Lautan Pasifik sampai mendarat di Sunda Kelapa.

Saya rasa, genre seperti ini lah yang sangat cocok untuk Tere Liye. Fiksi mengandung unsur politik dan agak-agak thriller.

8 dari 10 untuk buku Negeri Para Bedebah ini. Saya masukkan ke dalam daftar buku yang Saya rekomendasikan untuk dibaca. Fiksi yang sangat menambah wawasan :)