Minggu, 29 Mei 2016

[Review] The Last King of Scotland

Ter-James McAvoy membuat Saya penasaran tentang film-film yang membesarkan namanya. Salah satunya adalah film The Last King of Scotland yang membawa James McAvoy sebagai aktor terbaik pada BAFTA award tahun 2006/2007. Film ini menceritakan tentang perjalanan James McAvoy sebagai Nicholas Garrigan-seorang dokter muda berkebangsaan Skotlandia-yang merasa hidupnya terlalu biasa saja berada di zona nyaman di negaranya. Kemudian memutuskan berpetualang ke Uganda yang dipilihnya secara random dengan memutar-mutar globe. Diawali dengan menjadi dokter di klinik misionaris Uganda. Berlanjut menjadi dokter pribadi sekaligus penasihat Idi Amin, presiden Uganda kala itu.

Selama berada di sisi presiden, dr. Garrigan secara perlahan mengetahui kediktatoran dan kekejaman masa pemerintahannya. Membunuh siapa saja yang bersebrangan. Bukan hanya dari segelintir kelompok oposisi, tetapi juga dari kalangan para menteri tanpa sembunyi-sembunyi dan tanpa diadili. Entah seperti apa hukum di Uganda pada masa itu. Ironis, pada awalnya dr. Garrigan merasa Amin adalah sosok presiden yang dicintai rakyat dan bisa membebaskan Uganda dari keburukan yang dilakukan presiden sebelumnya. Ketika dr. Garrigan semakin merasa ada yang tidak beres-melayani pemimpin diktator brutal-dan meminta pulang ke Skotlandia, Amin melarangnya, bahkan mencuri paspor Skotlandia dr. Garrigan dan menggantinya dengan paspor Uganda. dr. Garrigan meminta pertolongan kepada seorang intelijen yang malah meminta dr. Garrigan membunuh Amin. Intelijen merasa dr. Garrigan adalah orang paling tepat untuk menusuk Amin dari dalam.

Perjalanan dr. Garrigan semakin kompleks ketika ia menjalin hubungan asmara dengan Kay, salah satu istri Amin. Mereka bertemu ketika salah satu anak Amin mengalami epilepsi dan ditolong oleh dr. Garrigan. Hubungan terlarang antara Kay dan dr. Garrigan diketahui oleh Amin yang membuat Kay berakhir dengan potongan tubuh dimutilasi oleh Amin. Sedangkan dr. Garrigan disiksa dengan cara digantung secara sadis. Entah itu kawat atau besi untuk menggantung, dikaitkan langsung di dada menembus rusuk dr. Garrigan setelah ia babak belur dipukuli oleh anak buah Amin. Kejadian ini terjadi di rumah sakit, disaksikan oleh Thomas Junju, dokter asli Uganda. dr. Garrigan diselamatkan oleh dr. Junju dan kabur bersama sandera yang dibebaskan Amin. dr. Junju mengesampingkan keselamatannya ketika membebaskan dr. Garrigan. dr. Junju berharap, ketika dr. Garrigan pulang ke negaranya, ia harus membeberkan kekejaman Amin dan membuka mata dunia. Dunia akan percaya, karena dr. Garrigan adalah bangsa kulit putih.

Idi Amin adalah tokoh nyata yang pernah benar-benar ada. Amin menjabat presiden Uganda dari tahun 1971 sampai tahun 1979. Sejarah mencatat pada masa kekuasaan Amin, sekitar 300.000 penduduk Uganda dibunuh dan dianiaya. Beberapa sumber menuliskan bahwa rezim Amin adalah rezim terburuk dan memusingkan banyak kalangan. Rezimnya membawa Uganda mengalami krisis ekonomi parah. Padahal, Uganda merupakan salah satu negeri tersubur di Afrika. Akibat sistem transportasi yang buruk, hasil pertanian yang melimpah untuk didstribusikan ke kota dan diekspor malah tertahan di desa. Dari 298 alat transportasi fasilitas pemerintah, hanya 11 saja yang dijalankan. Amin mempunyai 4 orang istri dan 34 orang anak.

dr. Garrigan adalah tokoh fiktif. Penulis The King of Scotland, memadukan fakta dan fiktif secara luar biasa. Yang saya sayangkan, mengapa karakter dr. Garrigan harus penyuka istri orang. Pertama, istri dari dr. David Merrit bernama Sarah. Kedua, istri Idi Amin bernama Kay. Ah, mungkin penulis ingin menggambarkan bahwa selera dr. Garrigan adalah wanita matang yang dewasa. Cocok lah dengan selera saya yang suka pria mature. Hahaha.

Menyaksikan kekejaman Amin sepanjang film, mengingatkan saya akan film G30S PKI. 8 dari 10 rating dari saya untuk film campuran fiktif dan fakta ini. Recomended untuk ditonton bagi kalian penyuka sejarah sekaligus drama. Hanya siap-siap saja ketika menonton nanti, telinga kurang dimanjakan dengan alunan musik. Film ini hampir tidak ada music scorenya. Musik yang ada hanya musik khas Afrika pada adegan pesta.
dr. Garrigan, Presiden Amin dan Beberapa Ajudan

Sabtu, 21 Mei 2016

Eksplorasi Balai Kirti

Kebangkitan Nasional adalah masa di mana bangkitnya rasa dan semangat persatuan, kesatuan dan nasionalisme untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia yang salah satunya ditandai dengan berdirinya Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908. 108 tahun sudah berlalu, semoga semangat kebangkitan ini masih terpatri di hati pemuda-pemudi Indonesia.

Sebagai salah satu cara memperingati Hari Kebangkitan Nasional di tahun 2016 ini, Sajubu berkolaborasi bersama Terminal Hujan dan Beasiswa Alumni SMAKBo mengadakan event mengunjungi Museum Kepresidenan Republik Indonesia Balai Kirti yang berlokasi di kawasan Istana Kepresidenan Bogor. Untuk sedikit informasi, nama Kirti ini diambil dari Bahasa Sansekerta yang berarti kemasyhuran.

Balai Kirti diresmikan pada tanggal 18 Oktober 2014 oleh Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono. Museum ini didirikan di tanah seluas kurang lebih 3211,6 meter persegi, sebagai penghargaan atas karya dan prestasi dari presiden pertama sampai dengan keenam dalam membangun Indonesia. Dengan desain sedemikian rupa, semangat para presiden yang telah membangun dan berjasa bagi Indonesia dapat diresapi kehadirannya.

Ketika memasuki Balai Kirti di lantai pertama, pengunjung disambut oleh lambang negara Indonesia. Burung Garuda dengan gagahnya bertengger di pintu masuk, diapit oleh teks Proklamasi di sebelah kiri dan teks Pancasila di sebelah kanan. Ke arah kanan dari pintu masuk terpampang jelas teks pembukaan Undang Undang Dasar 1945 sebagai dasar negara Indonesia. Agak ke dalam, patung 6 presiden Republik Indonesia berdiri dengan gaya khasnya masing-masing. Ukuran patung ini sebesar 1,5 kali ukuran asli para presiden.

Garuda diapit oleh teks Proklamasi dan Pancasila

 
Teks Pembukaan UUD 1945
Patung Presiden Terdahulu dengan Gaya Khas Masing-masing
Ruang museum lantai dua memamerkan barang-barang memorabilia pribadi milik para presiden terdahulu. Setiap presiden, masing-masing memiliki satu ruangan. Mulai dari pakaian lengkap dengan atributnya, yang biasa digunakan para presiden dalam menerima tamu kenegaraan, jam tangan kesayangan, kacamata yang digunakan, sampai foto-foto bersejarah dapat dilihat di lantai dua ini. Setiap ruangan dilengkapi foto dan quotes dari masing-masing presiden.


Soekarno :
"Jas Merah. Jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah"

Soeharto :
"Hanya sebutir pasir yang dapat kami beri untuk memperkokoh pondasi negara republik proklamasi"

B.J. Habibie :
"Indonesia harus mengandalkan pada sumberdaya manusia yang berbudaya, merdeka, bebas, produktif dan berdayasaing tinggi"

K.H. Abdurrahman Wahid :
"Tidak ada kekuasaan yan layak dipertahankan dengan pertumpahan darah"

Megawati Soekarnoputri :
"Bendera telah aku kibarkan, pantang surut langkahku walau tinggal sendirian"

Susilo Bambang Yudhoyono :
"Kekuasaan itu menggoda, gunakan dengan penuh amanah untuk kepentingan bangsa"
 
Perpustakaan Kepresidenan
Di lantai dua juga terdapat ruang perpustakaan, surganya para pembaca buku. Buku-buku di ruang ini adalah buku koleksi pribadi para presiden. Pada kesempatan kali ini, rombongan Kami mendapatkan kesempatan emas untuk memasuki ruang perpustakaan dan berlama-lama menelisik koleksi buku apa saja yang ada di sana. Ruang perpustakaan saya nobatkan sebagai ruangan terfavorit se-Balai Kirti. Hehehe

Koleksi Buku Perpustakaan Kepresidenan

Koleksi Buku Rak Soekarno

Kak Novita dengan Buku Indonesia Optimis

Kakak dari We Love Bogor asyik membaca