Jumat, 21 April 2017

Kartini Adalah Seni

Besok libur! Buka laptop di Jumat malam masih saja tampilan ini yang terbuka. Kau, kulewatkan dulu yaa. Sampai jumpa hari Selasa :)

21 April tahun 2017 ini masih saja pertanyaan "Mengapa Kartini ada harinya sedangkan Cut Nyak Dien, Cut Meutia, Dewi Sartika, Rohana Kudus, Maria Walanda Maramis, Martha Christina Tiahahu dan pahlawan wanita lain dari setiap daerah tidak ada?". Jawaban setiap tahun pun berbeda-beda, apalagi di era diserbadigitalkan ini mungkin tulisannya sudah banyak dan semakin banyak berkeliaran di dunia maya. Tinggal mau membaca dan mencernanya saja. Eh tapi tenang, bukan itu kok yang akan saya bahas. Wong tentang Kartini yang saya hapal secara fasih hanya judul buku Habis Gelap Terbitlah Terang dan lagu W.R. Supratman berjudul Ibu Kita Kartini yang ada di buku legendaris Kumpulan Lagu Wajib dan Nasional. Do re mi fa sol mi do, la do si la sol, fa la sol fa mi do, re fa mi re do. Itu saja.

Kartini yang berbekas diingatan saya baru-baru ini adalah film biografi besutan sutradara Hanung Bramantyo yang diperankan oleh Dian Sastro. Film yang mempertemukan Reza Rahadian dan Adinia Wirasti sebelum film Critical Eleven yang ditunggu pembaca setia Ika Natassa tayang 10 Mei nanti. Reza Rahadian memerankan Sosrokartono, kakak laki-laki Kartini yang dalam film digambarkan sebagai pemberi "kunci" untuk membuka pintu dunia pada Kartini. Beberapa hal menarik tentang Sosrokartono saya baca di Historia, ternyata memiliki bakat supranatural dan seorang poliglot. Selain Dian Sastro, Reza Rahardian, Adinia Wirasti, juga berjejer artis dan aktor kawakan Indonesia lainnya dengan penggunaan 3 bahasa, Indonesia, Jawa, dan Belanda sepanjang 122 menit.

Fokus film ada pada kehidupan Kartini sebagai perempuan Jepara yang menjalani tradisi dan merasa resah akan tradisi yang membatasi ekspresi, terutama pada kaum wanita, lalu berusaha mendobraknya. Entah bagaimana jika saya hidup di abad pengantar milenium kedua itu. Dipingit sejak dari menstruasi pertama hingga dipinang laki-laki yang belum tentu masih sendiri alias sudah beristri, tidak diijinkan mengenyam pendidikan tinggi, tidak bisa negosiasi untuk tidak dipoligami, tidak bisa memanggil Ibu kandung dengan panggilan Ibu, dan banyak hal lain yang membatasi perempuan untuk mengembangkan diri. Itu pun jika lahir dari keluarga priyayi, bagaimana jika terlahir dari rakyat biasa di bawah hegemoni Londo?

Pada akhirnya, Kartini menyerah pada tradisi yang mengharuskan dia menjadi seorang Raden Ayu dengan menikahi pria bangsawan yang bukan pilihannya. Salah satu syarat Kartini mau dinikahi adalah dengan dibuatkannya sekolah untuk wanita di mana sekolah itu menjadi sekolah wanita pertama pada masa pendudukan Hindia-Belanda.

Kartini adalah segelintir orang yang beruntung karena masih bisa membaca dan menulis, serta bisa berbahasa asing sehingga memberikan jalan buatnya untuk berkomunikasi dengan sahabatnya dari Belanda, Rosa Abendanon dan Ovink Soer. Komunikasi itu lah yang membuka wawasan Kartini tentang emansipasi yang tentu saja berujung ke pergerakan feminisme. Feminisme di Indonesia yang masih banyak dianggap negatif dinetralkan oleh Hanung dengan adegan pertemuan Kartini dan seorang Ustad dan membahas salah satu ayat Al Quran bahwa dari sisi agama, kesetaraan perempuan layak diperjuangkan. Inti dari gerakan Kartini adalah untuk pengarahan dan pengajaran agar anak-anak perempuan mendapatkan pendidikan.

source : imdb





















Sabtu, 18 Maret 2017

Beauty and The Bea(s)t

Disney Princesses
Sebagai anak dari generasi 90an, saya cukup familiar dengan para princesses Disney ini. Sesuai gambar di atas, berurutan dari kiri ke kanan : Jasmine dari film Aladin, Rapunzel dari film Tangled, Snow White dari film Snow White and The Seven Dwarfs, Mulan dari film Mulan, Aurora dari film Sleeping Beauty, Cinderella-the main Disney's princess-dari film Cinderella, Pocahontas dari film Pocahontas, Tiana dari film The Princess and The Frog, Belle dari film Beauty and The Beast, Ariel dari film The Little Mermaid, dan anggota baru geng putri Disney adalah Merida dari film Brave. Satu lagi ketinggalan, putri kekinian yang euforianya masih belum usai dari 2013 hingga 2017 ini, yaitu Anna dan Elsa dari film Frozen. Can you guess, who is my most favourit princess? And yaa, favorit saya adalah a nerd book with long brown hair and hazel eyes, Belle. Tahun 2015 berita Emma-Hermione-Watson dikonfirmasi memerankan karakter Belle pada Beauty and The Beast membuat ekspektasi saya terhadap adaptasi salah satu animasi Disney ini semakin tinggi.

Belle-seorang gadis desa-yang dianggap odd and peculiar oleh semua tetangganya, tinggal bersama ayahnya, Maurice. Sebuah insiden mempertemukan mereka dengan Beast-pangeran angkuh-yang terkena kutukan penyihir. Sesuai versi animasinya, adaptasi Beauty and The Beast adalah perjalanan Belle dan Beast menemukan cinta sejati untuk mematahkan kutukan sebelum kelopak mawar terakhir jatuh. Alur cerita sudah sangat familiar, tinggal menikmati bagaimana pengemasan film dengan CGI di mana-mana dan menikmati kecantikan Emma Watson, yang pastinya sangat bekerja keras belajar menari dan bernyanyi karena menjadi tokoh center sebuah drama musical.

Beauty and The Beast berhasil membuat saya tersenyum sepanjang 129 menit. Crew film menghidupkan imajinasi dunia Belle yang sudah abadi di hati pecintanya. Nuansa klasik sangat solid terasa dari pemilihan lagu, pemilihan buku yang dibaca Belle, busana, dan suasana. Membawa saya bernostalgia lagi ke masa duduk di bangku putih-merah dan menikmati Belle di layar kaca dalam bentuk animasi, rasa yang sudah saya lupakan itu kembali lagi. Belle's little town, ballroom, winter landscape, Beast's private library, Lumiere, Mrs. Potts, Chip, Gaston and LeFou, Enchantress, and all of the rest. I love everything about Disney stories coming to life. Satu yang aneh, latar tempat di Prancis tapi aksen sangat British.

Beriringan dengan keriuhan, film tidak luput dari kontroversi. Isu LGBT dalam film ini, saya rasa minor, tidak perlu banyak dibahas jika tidak setuju. Dengan membesar-besarkan sesuatu yang kecil, itu lah yang membuat hal menjadi terlihat dan banyak diperbincangkan, padahal masih bisa dihiraukan. Maaf yaa, saya anaknya emang gak mau mengambil pusing. Hehe.

10 menit menjelang film berakhir, semua kutukan hilang, semua penghuni Beast's Castle kembali menjadi manusia. Rambut Beast ketika kembali ke wujud manusia cantik banget (gagal fokus). Ada Profesor Dumbledore dan Profesor Sybill Trelawney, cieeee reunian Harry Potter.

Momen yang membekas di ingatan saya adalah ketika Beast mengenalkan private librarynya pada Belle. Emma Watson sebagai Belle tidak perlu bersusah payah pura-pura menyukai buku. Pancaran matanya itu terlihat sangat bercahaya dan seperti berkata "You give me a book, you give me a world". Then I talked to myself, I wanna that library too.

Beast's Library















Minggu, 22 Januari 2017

Psychedelic Folk Night

Faktor keberuntungan dalam hal pencarian tiket yang berbau terbatas seperti menjadi batasan dalam rencana kesenangan hidup. Berburu tiket kereta untuk keberangkatan di peak season. Nongkrongin web resmi, pihak kedua, ketiga, menggunakan 3 jenis aplikasi di smartphone di pukul 00.00 WIB sampai melek dua jam ke depannya. Hasil? Nihil! Sedih gak sih rasanya? Apa harus belajar jadi peretas cuma demi ini?

Berlanjut ke travel fair, dengan niat mendapatkan tiket pesawat murah untuk ke Indonesia barat dan timur. Hasilnya? Masih nihil. Kebagian yang murah malah buat ke Eropa. Belum niat ke sana :(
Belum lagi tiket konser A, B, C, D, E bla bla bla bla sampai Z. Mana ada yang dapet langsung beli dari web resmi. Ujungnya berbagi rizki sama calo aja lah kalo pengen nontonnya udah  kebangetan.

Udahaaaaan ketidakhokian-urusan-pertiket-annya (titik).
Awal Desember tersebar e-flyer tentang Cikini Folk Festival dengan seat terbatas. Kali ini dengan rasa pesimis mencoba order pre sale tiketnya, akhirnya mengukir prestasi perdana setelah berkali-kali gagal nikah jadi kaum oportunis. "Tumben nih kita dapet" komentar Novita sambil berurai air mata.

Well, yang penting dapet :)

Cikini Folk Festival berlangsung hari sabtu tanggal 17 Desember 2016 dari pukul 14.00 padat sampai pukul 21.50, berlokasi di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki dengan konsep plug and play ala Eropa (Meski belum pernah ke sana). Dari 12 seniman yang mengisi acara, saya hanya tahu 2-3 saja. Sisanya kenalan belakangan lah yang penting malam mingguan. Hahaha

H-1 Cikini Folk Festival, saya dan pastinya semua penonton yang hendak hadir nanti mendapatkan email dari penyelenggara acara. Surat elektronik yang dikirimkan menginformasikan susuna acara, transportasi, makanan, merchandisedo and don't selama acara berlangsung dengan penutup "Musik bagus perlu dirayakan". Agreed!
Saya bersama partner in crime memasuki Teater Kecil Taman Ismail Marzuki sekitar pukul 4 ketika Bin Idris memainkan jari-jari pada gitar akustiknya pada lagu calm water. Respon pertama saya adalah terkesima. Di Teater Kecil ini, untuk pertama kalinya saya tahu Bin Idris adalah alter ego dari Haikal Azizi, si gitaris dan vokalis Sigmun, band dari Bandung dengan aliran metal. The feeling feels like found new muse after my-candle-man married for the second time dan Novita semakin terpingkal ketika mendengar ini.
Setelah Cikini Folk, niat hunting album Bin Idris. Entah berapa lama saya tidak mengedipkan mata menyaksikan Bin Idris secara langsung. Seisi teater kecil diset gelap. Cahaya yang ada hanya dari panggung yang menyorot Bin Idris dengan gitarnya sehingga semua fokus ke atas panggung. Suasana sunyi, semua penonton menikmati Bin Idris. Seketika saya tidak rela berbagi Bin Idris macam ini. Hahahaha. I need you more than ever, lagu berjudul How Naive menutup penampilan Bin Idris tapi membuka sabtu malam saya perfectly. Lemah lah liat laki bergitar, +1 ketika laki-lakinya adalah anak pesantren. Bin Idris mesmerized me with his guitar skill.

16.40 di panggung luar, giliran Ari Reda yang memanjakan telinga para penikmatnya. Hujan di Bulan Juni, Di Restauran, Aku Ingin dan beberapa puisi Sapardi yang dimusikalisasikan menjadi soundtrack of Jakarta yang basah sore itu. Mendengar suara Reda Gaudiamo dan petikan gitar Ari Malibu membuat bulu kuduk serius merinding. Harmonisasinya menusuk kalbu. Membawa saya ke masa ketika hidup harus semakin disyukuri dan tidak disia-siakan hanya dengan menangisi hal-hal yang yang sudah pergi. Ketika menengok ke belakang, saya melihat Bin Idris pun sedang menikmati apa yang sedang saya nikmati, satu frekuensi :)
Sisir Tanah adalah main course for Novita. Lagi-lagi Bin Idris duduk manis di dalam Teater Kecil tepat di depan saya, another satu frekuensi. Hehe. Menyaksikan langsung Sisir Tanah berbeda dengan hanya mendengarkan karyanya. Bagus Dwi Danto diimpor dari Yogyakarta, asli kocak. Di atas panggung sepanjang pementasan terus melawak dan nyanyi. Saya pribadi sulit untuk mengikuti nada-nada Sisir Tanah. Hanya Sisir Tanah yang bisa menyanyikan karya Sisir Tanah. Autentik! Liriknya sederhana tapi ngena. Sebelum Sisir Tanah selesai, semua penonton dibimbing untuk menyanyikan 1 bait secara bersama-sama dan voila, penonton kompak bak paduan suara. Walau karya Sisir Tanah sudah bertebaran di dunia maya, sayangnya ia tidak bermain sosial media sehingga agak sulit untuk mengetahui kegiatannya selain di panggung. Atau memang itu yang diiinginkan Sisir Tanah? Membiarkan karya Sisir Tanah yang merajalela tapi tidak dengan Bagus Dwi Danto.

Sehabis magrib, Vira Talisa di panggung luar menghipnotis penonton dengan trilingualnya (Indonesia - Inggris - Prancis). Wanita dan gitar itu seksi, ditambah paras manis dan suara bagus adalah perpaduan sempurna. Musik yang menginspirasi Vira Talisa mungkin kurang dari tahun 1980, era yang baru saya dengar. Entah sedang apa Vira Talisa ketika menciptakan Way Back Home dan Whirlwind. Karyanya organik tanpa tambahan efek apa pun selain petikan gitar.

Kembali ke panggung dalam, Iksan Skuter tampil solo setelah sebelumnya menjadi bintang tamu di penampilan Sisir Tanah. Menyaksikan Iksan Skuter, mengingatkan saya pada Iwan Fals. Karyanya bertemakan kehidupan sosial. Lagu Partai Anjing yang membekas di ingatan saya.

Jeje panggilan dari Jason Ranti, musisi sengkle seenak dewe tampil di panggung luar bersamaan dengan pertandingan final kedua Indonesia melawan Thailand di Bangkok. Sambil menyetem gitar, Jason Ranti protes bercanda mengapa Cikini Folk Festival harus dilangsungkan bersamaan dengan final bola yang diaminkan tawa oleh penonton. Gitar akustik, harmonika, suara effortless dan pemilihan kata-kata yang saya rasa jenius.

Adrian Yunan, Sir Dandy, dan ditutup oleh Marjinal menjadikan sabtu, 17 Desember 2016 adalah malam minggu paling bersejarah sepanjang 2016 buat saya. Senyum-senyum terus sampe seminggu, sebulan dan setahun ke depan :)

Inilah musik folk, sederhana dan merakyat.
Inilah band indie, ruh bagi dunia permusikan Indonesia.