Minggu, 22 Januari 2017

Psychedelic Folk Night

Faktor keberuntungan dalam hal pencarian tiket yang berbau terbatas seperti menjadi batasan dalam rencana kesenangan hidup. Berburu tiket kereta untuk keberangkatan di peak season. Nongkrongin web resmi, pihak kedua, ketiga, menggunakan 3 jenis aplikasi di smartphone di pukul 00.00 WIB sampai melek dua jam ke depannya. Hasil? Nihil! Sedih gak sih rasanya? Apa harus belajar jadi peretas cuma demi ini?

Berlanjut ke travel fair, dengan niat mendapatkan tiket pesawat murah untuk ke Indonesia barat dan timur. Hasilnya? Masih nihil. Kebagian yang murah malah buat ke Eropa. Belum niat ke sana :(
Belum lagi tiket konser A, B, C, D, E bla bla bla bla sampai Z. Mana ada yang dapet langsung beli dari web resmi. Ujungnya berbagi rizki sama calo aja lah kalo pengen nontonnya udah  kebangetan.

Udahaaaaan ketidakhokian-urusan-pertiket-annya (titik).
Awal Desember tersebar e-flyer tentang Cikini Folk Festival dengan seat terbatas. Kali ini dengan rasa pesimis mencoba order pre sale tiketnya, akhirnya mengukir prestasi perdana setelah berkali-kali gagal nikah jadi kaum oportunis. "Tumben nih kita dapet" komentar Novita sambil berurai air mata.

Well, yang penting dapet :)

Cikini Folk Festival berlangsung hari sabtu tanggal 17 Desember 2016 dari pukul 14.00 padat sampai pukul 21.50, berlokasi di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki dengan konsep plug and play ala Eropa (Meski belum pernah ke sana). Dari 12 seniman yang mengisi acara, saya hanya tahu 2-3 saja. Sisanya kenalan belakangan lah yang penting malam mingguan. Hahaha

H-1 Cikini Folk Festival, saya dan pastinya semua penonton yang hendak hadir nanti mendapatkan email dari penyelenggara acara. Surat elektronik yang dikirimkan menginformasikan susuna acara, transportasi, makanan, merchandisedo and don't selama acara berlangsung dengan penutup "Musik bagus perlu dirayakan". Agreed!
Saya bersama partner in crime memasuki Teater Kecil Taman Ismail Marzuki sekitar pukul 4 ketika Bin Idris memainkan jari-jari pada gitar akustiknya pada lagu calm water. Respon pertama saya adalah terkesima. Di Teater Kecil ini, untuk pertama kalinya saya tahu Bin Idris adalah alter ego dari Haikal Azizi, si gitaris dan vokalis Sigmun, band dari Bandung dengan aliran metal. The feeling feels like found new muse after my-candle-man married for the second time dan Novita semakin terpingkal ketika mendengar ini.
Setelah Cikini Folk, niat hunting album Bin Idris. Entah berapa lama saya tidak mengedipkan mata menyaksikan Bin Idris secara langsung. Seisi teater kecil diset gelap. Cahaya yang ada hanya dari panggung yang menyorot Bin Idris dengan gitarnya sehingga semua fokus ke atas panggung. Suasana sunyi, semua penonton menikmati Bin Idris. Seketika saya tidak rela berbagi Bin Idris macam ini. Hahahaha. I need you more than ever, lagu berjudul How Naive menutup penampilan Bin Idris tapi membuka sabtu malam saya perfectly. Lemah lah liat laki bergitar, +1 ketika laki-lakinya adalah anak pesantren. Bin Idris mesmerized me with his guitar skill.

16.40 di panggung luar, giliran Ari Reda yang memanjakan telinga para penikmatnya. Hujan di Bulan Juni, Di Restauran, Aku Ingin dan beberapa puisi Sapardi yang dimusikalisasikan menjadi soundtrack of Jakarta yang basah sore itu. Mendengar suara Reda Gaudiamo dan petikan gitar Ari Malibu membuat bulu kuduk serius merinding. Harmonisasinya menusuk kalbu. Membawa saya ke masa ketika hidup harus semakin disyukuri dan tidak disia-siakan hanya dengan menangisi hal-hal yang yang sudah pergi. Ketika menengok ke belakang, saya melihat Bin Idris pun sedang menikmati apa yang sedang saya nikmati, satu frekuensi :)
Sisir Tanah adalah main course for Novita. Lagi-lagi Bin Idris duduk manis di dalam Teater Kecil tepat di depan saya, another satu frekuensi. Hehe. Menyaksikan langsung Sisir Tanah berbeda dengan hanya mendengarkan karyanya. Bagus Dwi Danto diimpor dari Yogyakarta, asli kocak. Di atas panggung sepanjang pementasan terus melawak dan nyanyi. Saya pribadi sulit untuk mengikuti nada-nada Sisir Tanah. Hanya Sisir Tanah yang bisa menyanyikan karya Sisir Tanah. Autentik! Liriknya sederhana tapi ngena. Sebelum Sisir Tanah selesai, semua penonton dibimbing untuk menyanyikan 1 bait secara bersama-sama dan voila, penonton kompak bak paduan suara. Walau karya Sisir Tanah sudah bertebaran di dunia maya, sayangnya ia tidak bermain sosial media sehingga agak sulit untuk mengetahui kegiatannya selain di panggung. Atau memang itu yang diiinginkan Sisir Tanah? Membiarkan karya Sisir Tanah yang merajalela tapi tidak dengan Bagus Dwi Danto.

Sehabis magrib, Vira Talisa di panggung luar menghipnotis penonton dengan trilingualnya (Indonesia - Inggris - Prancis). Wanita dan gitar itu seksi, ditambah paras manis dan suara bagus adalah perpaduan sempurna. Musik yang menginspirasi Vira Talisa mungkin kurang dari tahun 1980, era yang baru saya dengar. Entah sedang apa Vira Talisa ketika menciptakan Way Back Home dan Whirlwind. Karyanya organik tanpa tambahan efek apa pun selain petikan gitar.

Kembali ke panggung dalam, Iksan Skuter tampil solo setelah sebelumnya menjadi bintang tamu di penampilan Sisir Tanah. Menyaksikan Iksan Skuter, mengingatkan saya pada Iwan Fals. Karyanya bertemakan kehidupan sosial. Lagu Partai Anjing yang membekas di ingatan saya.

Jeje panggilan dari Jason Ranti, musisi sengkle seenak dewe tampil di panggung luar bersamaan dengan pertandingan final kedua Indonesia melawan Thailand di Bangkok. Sambil menyetem gitar, Jason Ranti protes bercanda mengapa Cikini Folk Festival harus dilangsungkan bersamaan dengan final bola yang diaminkan tawa oleh penonton. Gitar akustik, harmonika, suara effortless dan pemilihan kata-kata yang saya rasa jenius.

Adrian Yunan, Sir Dandy, dan ditutup oleh Marjinal menjadikan sabtu, 17 Desember 2016 adalah malam minggu paling bersejarah sepanjang 2016 buat saya. Senyum-senyum terus sampe seminggu, sebulan dan setahun ke depan :)

Inilah musik folk, sederhana dan merakyat.
Inilah band indie, ruh bagi dunia permusikan Indonesia.