Selasa, 25 Februari 2014

i'm cured

Lagi-lagi tulisan Darwis Tere Liye yang menginspirasi. Kalo udah baca tulisan Bang Darwis, kayanya beban di pundak mendadak berasa enteng, dan kesedihan yang rasanya ga berujung ini jadi sia-sia belaka aja. Kapan ya gue jadi penulis yang bisa menggugah perasaan model bang Darwis ini? hmmm. one day, i will... aamiin.

Bang Darwis pernah nulis bahwa hidup adalah tepi-tepi pemahaman yang saling bertolak belakang satu sama lain. Ketika kita menyentuh satu tepinya, maka ajaib sekali, kita akan memahami tepi satunya lagi... Dengan melewati seluruh tepi kesedihan, kita akan paham hakikat kebahagiaan. Dengan melewati tepi kesendirian, maka kita akan bersyukur atas kebersamaan. Dengan mencoba diam dalam keheningan, maka kita akan lebih dewasa menyikapi keramaian. Dengan merasakan tepi PENGKHIANATAN, maka kita akan paham hakikat kesetiaan. Dengan sensasi tepi ditinggalkan, maka kita akan mengerti definisi menunggu.

Pengkhianatan. Gue agak sensitif dengan kata ini. Cukup bikin gue ancur-ancuran sampe ga bisa ngapa-ngapain. Sebenernya salah gue sendiri sih yang terlalu besar ngasih porsi sama segumpal perasaan ini. Tapi sekarang gue sadar, buat apa sih?? Harusnya gue bersyukur dan berterimakasih sama si pengkhianat ini. Eh, terlalu kejam ga sih kalo disebut pengkhianat? Heuu. "Dengan merasakan tepi pengkhianatan, maka kita akan paham hakikat kesetiaan". Hey, cinta masa mudaku... terimakasih yaa sudah mengkhianati saya dua kali. Sebelum ijab kabul, sebelum semuanya jauh lebih terlambat lagi, terimakasih sudah mengkhianati saya, meninggalkan saya, membuka pikiran saya dan memberikan saya kesempatan untuk bertemu orang yang lebih baik :)

Teman baik  gue bilang : "if someone betray you for the first time, it would be his/her mistaken. but if someone betray you for the second, it's obviously your mistaken". Ah teman, terima kasih sudah mengingatkan. Tidak akan ada asap, bila tidak ada api (ralat : tidak akan ada asap, bila tidak ada panas). Diperlakukan seperti ini, pasti gue ikut andil di dalamnya. Mungkin ada bagian dari diri gue yang tidak bisa dia terima, dan dia menemukannya di diri orang lain. Bukan salah dia ko bila ingin terus mencari yang terbaik. Itu hak nya. Hanya saja, berpindah dari 1 hati ke hati lain hanya untuk mencoba-coba bukan hal yang dewasa. Hal seperti itu tidak akan ada ujungnya. Seperti lari dari masalah. Dan... yang bisa gue lakukan adalah terus introspeksi dari kesalahan-kesalahan yang telah lalu. Biar kedepannya kesalahan-kesalahan yang lalu ini tidak terulang. Kesalahan cukup dilakukan sekali saja, jangan diulang. Remedial cukup sekali, ga usah pake remedial istimewa. Sebagai bukti bahwa kita memang benar-benar sedang introspeksi, belajar memperbaiki diri. Memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin, menganggap ini adalah kesempatan terakhir, tidak ada kesempatan kedua apalagi ketiga keempat kelima dan keseterusnya.
Gue selalu merasakan sendirian dan kebingungan harus melakukan apa. Padahal dengan menyadari kesendirian saja, sudah jelas gue sedang melakukan sesuatu : menyadari kesendirian. Sakit itu manusiawi. Minum obat saja dan tunggu khasiatnya. Efeknya tidak langsung, tidak instan, dibutuhkan proses untuk penyebaran obatnya ke bagian yang tepat. Semoga gue tidak salah minum obat dan obat yang gue konsumsi efek sampingnya sedikit. waktu... segeralah berlalu. pengen cepet-cepet ngerasain lagi nih yang namanya "i'm totally cured". hehehehe
masih tulisan Bang Darwis :
ketika kita mencintai seseorang hanya untuk tahu ternyata dia mencintai orang lain
ketika kita menunggu begitu lama hanya untuk tahu ternyata dia justru menunggu orang lain
ketika kita sudah melakukan yang terbaik tapi tetap gagal juga hingga sesak bertanya "harus sebaik apalagi usaha kita agar berhasil?"
ketika kita menginginkan sesuatu ternyata yang kita dapatkan sesuatu yang justru tidak kita butuhkan, membuat berseru kesal "kenapa dan kenapa?"
ketika kita tidak mengerti kenapa semua seperti berlawanan dengan maunya kita, kenapa doa-doa kita seolah tidak terjawab
maka...
mungkin itulah saatnya
tiba waktunya untuk menyadari
boleh jadi ada skenario lebih indah telah menanti
menunggu kita bersedia menerimanya
tersenyum lapang bahwa semua baik-baik saja
karena boleh jadi
ketika kita mencintai seseorang, dan dia mencintai orang lain
sebenarnya ada yang justru sedang mencintai kita dalam diam
ketika kita menunggu begitu lama, dan dia justru sedang menunggu orang lain
sebenarnya tengah ada yang justru menunggu, kapan kita akan menoleh padanya
~

 let's sing Lady Antebellum song



"Ready To Love Again"

Seems like I was walking in the wrong direction
I barely recognize my own reflection,
no cared of love but scared of life alone

Seems I've been playing on the safe side baby
Building walls around my heart to save me, oh
But it's time for me to let it go

Yeah, I'm ready to feel now
No longer am I afraid of the fall down
It must be time to move on now
Without the fear of how it might end
I guess I'm ready to love again

Just when we think that love will never find you
You runaway but still it's right behind you, oh
It's just something that you can't control

Yeah, I'm ready to feel now
No longer am I afraid of the fall down
It must be time to move on now
Without the fear of how it might end
I guess I'm ready to love again

So come and find me
I'll be waiting up for you
I'll be holding out for you tonight

Yeah, I'm ready to feel now
No longer am I afraid of the fall down

It must be time to move on now
Without the fear of how it might end
I guess I'm ready
I'm ready to love again

Kamis, 20 Februari 2014

who plays drama, will get carma

Karma comes after everyone eventually. You can't get away with screwing people over your whole life. What goes around comes around. That's how it works. Sooner or later the universe will serve you the revenge that you deserve.


Like gravity, karma is so basic we often don't even notice it. You have to appreciate where you have come from to know who you are in the present and whom you would like to be in the future.


Once you’ve lived a little you will find that whatever you send out into the world comes back to you in one way or another. It may be today, tomorrow, or years from now, but it happens; usually when you least expect it, usually in a form that’s pretty different from the original. Those coincidental moments that change your life seem random at the time.


This is your karma. You do not understand now, but you will understand later. The source of pain is within your own larger expression of being. As long as karma exists, the world changes. There will always be karma to be taken care of...





Minggu, 16 Februari 2014

time healing

untuk yang kesekian kalinya, saya mengulang membaca pesan terakhir yang saya kirimkan untukmu. saya menanyakan kabarmu, kamu pun sebaliknya. saya menggunakan panggilan yang biasa saya gunakan, tapi kamu sudah tidak menggunakan panggilan itu pada saya. rasanya tidak karuan. "tidak dianggap ada" adalah perasaan yang saya rasa paling buruk dari semua rasa yang pernah saya rasakan. why do i choose person who treated like i was nothing? dalam sekejap, rasa yang sudah dipupuk bertahun-tahun seperti dijatuhi bom nuklir. menjadikan yang ada menjadi bukan apa-apa.

saya seperti seorang pesakitan yang terobsesi pada seseorang yang saya cinta dan harus saya miliki. dalam setiap jam, bahkan kurang, saya selalu mengecek apakah status chat messengermu berubah, apakah foto profilemu berubah, kapankah aplikasi ini terakhir kali kamu buka. dan mirisnya saya kadang merasa senang jika dibawah namamu tertulis kata "online". saya merasa kita sedang terhubung secara 2 arah. tapi sayangnya saya melaju ke arahmu dengan cepat namun kamu melaju lebih cepat ke arah yang lain.

hidup ini seperti cuaca. hari ini bisa hujan, besok bisa cerah. mungkin untuk sekarang musim hujan sedang menhgampiri dunia saya. tapi saya tetap ingat, hujan ini tidak akan selamanya turun, masih ada cerah menanti. maka saya nikmati saja musim hujan ini sambil mengumpulkan cadangan air, biar dunia saya seimbang, tidak kekeringan saat musim cerah nanti.
hari ini saya membaca tulisan tere liye dalam novel berjudul Eliana yang isinya :
"hakikat cinta adalah melepaskan. semakin sejati ia, semakin tulus kau melepaskannya. percayalah, jika memang itu cinta sejati kau, tidak peduli aral melintang, ia akan kembali sendiri padamu. banyak sekali pecinta di dunia ini yang melupakan kebijaksanaan sesederhana itu. malah sebaliknya, berbual bilang cinta, namun dia menggenggamnya erat-erat"
tulisan yang inspiratif dari bang darwis...

tidak ada yang perlu saya sesali. menanggalkan ego sudah saya lakukan, berusaha semampu saya untuk mempertahankanmu sudah saya saya lakukan. dan meminta kesempatan untuk memperbaiki diri pun sudah saya lakukan. bila kesempatan itu tidak kamu berikan, maka saya harus bisa menerima dan menghargai keputusanmu. selanjutnya, saya harus belajar menerima kenyataan. saya harus belajar mulai melepaskan. saya harus menetralkan perasaan saya sendiri. saya harus memaafkan diri sendiri. dan merengkuh rasa damai dalam hati saya sendiri.

suatu hari saya akan bangun dan tidak akan merasakan kesedihan-kesedihan ini lagi. semua beban ini akan hilang dan saya akan lebih ikhlas menjalani semuanya...