Sabtu, 08 Oktober 2016

[Review] Shinya Shokudo, Featured Dish For Life

The misty white breath you exhale is slowly riding in the wind. And little by little vanishing inside the clouds up in the sky. From up above the sky, the white clouds reach out to you. And drink the white breath you exhale. They continue to float away. Seems just like a memory long past. Clouds floating above the surface.

Dibuka dengan nada Omoide-nya Suzuki Tsunekichi dan latar suasana malam di jalanan Jepang, membuat mood saya naik untuk melanjutkan nonton Shinya Shokudo. Rasanya seperti dibawa flashback, favorit banget yaa berbau-bau nostalgia. Omoide sendiri artinya Memories. Eargasm!

Suasana Malam Opening Song
 Shinya Shokudo berarti Midnight Restaurant. Sesuai judulnya, dorama Jepang yang diambil dari serial manga ini bercerita tentang sebuah restoran di Jepang yang buka mulai dari tengah malam sampai jam 7 pagi. Menu dari kertas yang sudah menguning terpampang di dinding. Masakan yang disajikan seorang koki dengan panggilan Master ini relatif sederhana. Saking sederhananya, beberapa menu yang ditampilkan di season 1 jadi inspirasi saya buat masak ala anak kosan. Hehehe.

"As the day comes to an end and people make their way home, my own day begins. Menu is all there. The possibility of getting served anything else as long as it's possible, my business model. How is business doing? Well enough I'd say " - Master

Cerita pembuka season 1 adalah Red Wiener & Tamagoyaki. Pemesan Red Wiener dengan sajian dibentuk octopus ini adalah seorang yakuza dan pemesan Tamagoyaki adalah laki-laki "cantik" pemilik bar. Ditambah seorang dancer wanita pemesan Tarako dengan sajian medium rare. Tidak hanya di episode 1, hampir di setiap episode, setiap makanan yang pelanggan pesan berbeda dan mempunyai cerita tersendiri yang tentu saja mereka simpan sendiri. Everyone keeps some kind of special memory buried down their soul.

 Shinya Shokudo sendiri berbentuk 1 ruangan dengan dapur tempat Master memainkan kreatifitasnya dan meja letter U yang cukup sekitar 9 orang dewasa jika duduk penuh. Semacam kedai Mang Uri jaman saya duduk di senior vocational high school dulu. Flashback dulu ke Mang Uri. Mang Uri ini terletak di Jalan Ciheuleut-Pakuan dengan waktu buka 24 jam. Mang Uri adalah penolong anak kosan kelaparan yang menulis lapsus--laporan khusus praktikum--sampai tengah malam atau lewat tengah malam. Makanan yang Mang Uri sajikan hanya mie rebus berbagai rasa, mie goreng, bubur kacang hijau dan ketan hitam. Jika di Shinya Shokudo pengunjung selalu minum sake, di Mang Uri pelanggan tentu saja ngemil gorengan. Indonesia banget kaaan? Cara memasak mie rebus ala Mang Uri dan istrinya ini cukup unik mendekati membahayakan jiwa dan raga sang konsumen. Tapi nagih. Haha. Hayo, anak kosan sekitaran Ciheuleut-Pakuan mana yang belum pernah mampir ke Mang Uri? Gak lulus jadi anak kosan yaa. Sayangnya, Mang Uri sekarang udah gak ada di tempatnya dulu. Mereka sekeluarga sudah reurbanisasi ke kampung halaman. Sempet terakhir makan di sana, Mang Uri dan istrinya pamit setelah sekitar 20 tahun tidak pernah pindah.

Master di Shinya Shokudo selain sebagai koki juga merangkap pendengar setia para pelanggannya. Master sudah hapal betul apa-apa saja sajian favorit para konsumen dan kebiasaannya. Master sangat disukai oleh semua tamu karena perhatiannya. Bentuk perhatian Master diutarakan dalam bentuk nasihat, makanan spesial dan jika mampu, Master membantu memecahkan permasalahan pelanggannya.

Beberapa masakan sederhana Jepang juga dikenalkan di sini. Ada Tamagoyaki, telur dadar dengan penggorengan segi empat. Tarako, sejenis telur ikan mentah yang diasinkan. Ochazuke, nasi kuah ocha dengan toping ikan. Nekomanma, nasi kucing ala Jepang, nasi ditambah parutan ikan kering dan kecap asin. Katsudon, nasi dengan toping yang digoreng. Yakisoba, mie tekteknya Jepang. Mackarel. Ramen. Butter Rice. Karage. Nikogori. Tuna Mayo dan masih banyak lagi nih pokonya makanan Jepang semua. Yang lebih menarik lagi, di setiap akhir episode ada tutorial singkat masakan-masakan yang jadi penguat tema setiap episode. The simple dishes that served emphasize a lot to the theme that this dorama brought. Whatever fate leads you, whatever it leads your life to. From your childhood to yout adulthood. It is wherever fate leads you to, indeed.

Rating 9 dari 10 buat dorama yang mengusung tema food dan humanity drama ini. Recomended for people who enjoy food, philosophy, existensial literature and warm--often gently--melancholic atmosphere.

Master with His P(a)lace