Minggu, 24 April 2016

Galohgor Herbs

Pernah mendengar salah satu jenis makanan dengan nama "Galohgor"? Jika sudah, selamat. Kamu lebih beruntung daripada Saya yang baru mengetahui sekaligus mencicipi makanan tradisional ini. Hari Jumat lalu, di sela-sela jam istirahat makan siang, Saya menyempatkan menjenguk rekan kerja yang baru melahirkan anak keduanya. Sambil membicarakan detail bagaimana proses kelahiran putri rekan kerja Saya, Saya disuguhi berbagai cemilan. Dan yang membuat Saya tertarik adalah pada jenis makanan yang bernama Galohgor. Ini adalah kali pertama Saya mencicipi makanan jenis ini. Rasanya dominan pahit kaya hidup, dan Saya langsung suka, sampai-sampai tidak menolak ketika ditawari untuk membungkusnya. Hehehe. Thank you partner!

Mengenal lebih jauh tentang Galohgor, ternyata makanan ini sudah cukup familiar di beberapa rekan kerja lainnya. Biasanya Galohgor menjadi salah satu varian cemilan dalam acara pengajian di beberapa daerah Bogor. Duh, Saya merasa jadi makhluk gak gaul segajat raya deh, masa baru kenalan sama si Galohgor yang termasuk ke dalam jenis jamu kering ini.

Bahan Jamu Indonesia
Sumber : Forum Detik

Menurut info yang Saya dapatkan dari beberapa orang teman, Galohgor terbuat dari berbagai jenis dedaunan yang dikeringkan lalu ditumbuk hingga halus. Daun katuk dan daun pepaya adalah daun yang sering digunakan dalam pembuatan Galohgor. Dilihat dari komposisinya, pantas saja Galohgor cocok menjadi cemilan ibu-ibu nifas. Saponin, Tanin, Flavonoid, Triterpenoid, Asam Amino dan berbagai senyawa esensial lainnya yang kaya terkandung dalam daun katuk, bermanfaat untuk memperlancar ASI ibu yang sedang menyusui. Memakan Galohgor adalah cara alternatif mengkonsumsi dedaunan. Entah Nyonya Meneer yang berdiri sejak 1919 atau siapa pun itu yang menciptakan Galohgor, kalian keren loh, sungguh.

Bila negeri tirai bambu mempunyai obat Cina tradisionalnya, maka Indonesia punya jamu yang gak kalah berkhasiatnya.